Rabu, 25 September 2013

TUGAS SETELEH KELAS


4 P dengan Tokoh yang Saya Anggap Melakukan 4 P

saya menanggap tokoh yang saya minati ini, kami pembelajaran yang diberikan kepada saya dan teman-teman selalu inovatif dan berbeda dari cara penggajaran yang lainnya.



1. Person

Nama :Filia Dina Anggaraeni, M.Pd
Pekerjaan :Dosen Faklutas Psikologi
Departement Psikologi Pendidikan
Email : Filiadina[At]Yahoo.Co.Id
Alamat: Jl. Prof. T. Zulkarnain No. 11 Kampus USU
Medan 20154

061-8215984





2. Press
Internal: saya merasa ibu Dina memiliki motivasi agar kami dikelas dapat lebih baik memahami pembelajaran didalam kelas dan setelah pembelajaran dapat berguna untuk kehidupan sehari-hari

eksternal: saya merasa ibu Dina selalu melihat kami hanya sekedar belajar dan membaca yang akirnya tidak ilmu yang diajarkan tidak berguna.

3. Proses
Dalam Proses ini setiap kali ibu Dina menggajar selalu memotivasi saya dan kawan-kawan dan melakukan cara-cara tersendiri dalam penggaran.
contohnya ketika saya menggikuti kuliah pertama dikelas kreativitas, di pertemuan pertama kami ibu sudah memiliki cara dan alat-alat yang ia siapkan untuk menyuruh kami membuat sesuatu bentuk apa saja. sehingga membuat kami memikirkan lebih manfaatkan kuliah kreativitas.

4. Produk
Saya dapat lebih mudah memahami materi-materi yang disampaikan oleh bu Dina.

Rabu, 18 September 2013

TUGAS KREATIVITAS 2

PENGEMBANGAN EMPAT P DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS



sumber: 
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat., Jakarta: Rineka Cipta.


Ternyata 4 P ini adaah lanjutan bab selanjutnya, didalam bab ini di jelaskan empat P sendiri yang melandasi pengembangan kreativitas.
                Person
Teori psikoanalis dan teori humanistik sendiri digunakan sebagai landasan perencanaan program pendidikan anak berbakat. Karena banyak sekali teori yang menjelaskan tentang terbentuknya kepribadian yang kreatif

Press  

1.       Dari dalam diri individu
Rogers: “dorogan ada pada setiap orang dan bersifat inernal. Ada dalam diri individu sendiri, namun membutuhkan kondisi yang tepat untuk diekspresikan”
2.       Dari luar individu (ekstrinsik)
Rogers juga menyatakan adanya kondisi keamanan dan kebebasan psikologi memungkinkan timbulnya kreativitas dan konstruktif. Hal ini dibagi oleh Rogers menjadi keamanan psikologis dan kebebasan psikologis.
                Proses
Wallas (1926) dalam bukunya The Art of Thought Piirto, 1992 menyatakan proses kreatif melalu 4 tahapan
Ø  Persiapan, orang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain dan banyak hal lain agar masalah terpecahkan
Ø  Inkubasi, seolah-olah melepaskan diri dari masalah tersebut tapi mulai mencoba berpikir melalui alam bawah sadar tanpa sadar.
Ø  Iluminasi, timbulnya gagasan-gagasan baru atau inspirasi berserta program perencaannya.
Ø  Verifikasi, tahapan terakir yaitu mengevalusi terhadap realitas disini pemikiran konvergen dan kritis sangat diperlukan.
Produk
Besemer dan Treffinger (1981) hasil yang kreatif dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu,
1.       Sesuatu yang baru
2.       Pemecahan
3.       Kerincian serta sintesis
 Di Indonesia juga sudah ada penelitian yang dilakukan terhadap produk kreatif ini. Pada tahun 1997 pada siswa yang ditugaskan untuk mengarang. Kriteria penilaian kreatif berkaitan dengan aspek-aspek kreatif  yaitu
1.       Kelancaran
2.       Kelenturan
3.       Orisinalitas
4.       Kerincian (Elaborasi)

TUGAS SETELAH KELAS

4 P (Personality, Process, Press, and Product)
Dalam Kelas Kreativitas


4        P (Personality, Process, Press, and Product) merupakan


1. Personality (pribadi)

Ini merupakan diri sendiri dan bagaimana saya membawanya. Sewaktu dikelas kreativitas saya datang terlambat dan kurang mendapat infomarsi, tapi karena saya dulu pernah masuk kelas belajar saya mengikuti kelas ini dengan baik.

2. Process

Merupakan tahapan-tahapan dalam membentuk sesuatu hal. Dikelas kreativitas dimana ibu dimana membagikan kepada kami alat-alat yang harus kami buat. Dan saya memikirkan dengan apa saya harus membuat ini. Disini saya juga berusaha menemukan hal apa yang harus saya buat dengan alat-alat yang diberikan ibu Dina.

3.       Press

Press atau tekanan merupakan hal yang membuat kita membuat sesuatu. Ini dibagi menjadi internal dari dalam sendiri disebut juga movitasi dan eksternal dari luar diri sendiri atau bisa dibilang lingkungan. Dikelas kreativitas saya terdorong untuk membuat satu hal yang baik dan ibu Dina juga mengintrusikan saya untuk membuat apa saja.

4.       Product.

Produk merupakan hasil dari proses yang telah kita jalanani dan menghasilakan sesuatu. Di kelas kreativitas daaaaan ini hasilnya ......






saya membuat ini karena akir-akir ini saya sering melihat bus usu. kebutulan stimulus yang diberikan bu Dina salah satunya adalah brosur tentang bus ini. kenapa tidak saya buat saja famlet ini kelihat menarik agar lebih diperhatikan. itulah alasan saya membuatnya. 




Rabu, 11 September 2013

TUGAS 1 KREATIVITAS

Dasar Pertimbangan, Kebijakan, dan Konsep Keberbakatan dan Kreativitas


Pada bahasan ini akan dibahas pengembangan kreativitas , dasar dari pertimbangan anak berbakat dan kebijakan-kebijakan mengenai pelayanan pendidikan anak berbakat dan pengembangan kreativitas.


1. Dasar pertimbangan untuk pengembangan kreativitas.
a.       Hakikat pendidikan
Pendidikan tentunya sangat penting bahkan pendidikan juga merupakan perwujudan dari individu yang akirnya akan membawa pembangunan bangsa dan negara. Tujuan pendidikan sendiri adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga akirnya seorang anak dapat berfungsi dengan penuh sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masayarakat.

b.      Kebutuhan akan kreativitas
Kreativitas sendiri sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari bahkan dunia pendidikan juga sangat membutuhkan. Kreativitas sendiri bermanfaat untuk dapat menyelesaikan permasalahan dengan berbagai cara aar masalah yang dihadapi dapat terselesaikan dengan cepat.
Sayangnya kreativitas ini sendiri jarang terlatih, seorang guru besar Guilford (1950) mengukapkan dalam pidatonya bahwa dia merima banyak keluhan mengenai lulusan perguruan tinggi yang kurang dapat memecahkan masalah jika dituntut untuk menggunakan cara yang lain.

c.       Kendala dalam pengembangan kreativitas
Pengertian dalam kreativitas sendiri adalah merupakan sesutu yang dimiliki atau yang tidak dimiliki dan pendidikan juga tidak banyak mempengaruhi dalam terbentuknya kreativitas. Konsep dari kreativitas juga sangat sulit dibentuk karena sangat abstrak. Selanjutnya kreativitas juga sangat objektif jika hanya diukur memalalui sebuah alat ukur.

d.      Hubungan kreativitas-intelegensi
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Utami Munandar (1977) menemukan tes kreativitas sendiri merupakan dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari tes intelegensi, tetapi kreativitas sendiri juga menunjukan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen.

e.      Peran intelegensi dan kreativitas terhapat prestasi sekolah
Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang “Peran intelegensi dan kreativitas terhadap prestasi sekolah” ini. Dan hasilnya juga tidak ada yang menyatakan langsung tentang adanya pengaruh terhadap ketiga variable ini. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Torrance (1959), Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamoto (1964) bedasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tercapailah hasil kesimpulan yang hampir sama. Mereka menyatakan bahwa kelompok siswa yang memiliki kreativitas tinggi tidak berbeda dengan prestasi siswa dari kelompok siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi.

f.        Sikap guru dan orang tua mengenai kreativitas
Pendidikan (guru dan orangtua) bagi anak seharusnya tertuju pada kreativitas anak agar kelak dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.


2.       Dasar pertimbangan untuk pendidikan anak berbakat.
a.       Anak berbakat memerlukan program yang sesuai dengan perkembangannya karena ini merupakan proses interaktif antara lingkungan yang merangsang, kemampuan pembawaannya dan prosesnya.
b.      Pendidik seharusnya memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada anak berbakat untuk mengembangkan potensinya karena sangat tidak adil jika anak bisa berbuat lebih banyak tapi malah dihambat oleh pendidik karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan umur anak.
c.       Jika anak berbakat dibatasi mereka cenderung bosan dan malah menggangu teman yang lain atau malah yang lebih parahnya mereka memutuskan untuk berhenti dari sekolah.
d.      Kekawatiran terhadap kelompok anak berbakat seharusnya tidak berguna, karena anak berbakat sendiri akan lebih bermanfaat bagi semua orang jika dididik dengan baik oleh pendidik.
e.      Konsep diri negatif yang terbentuk oleh anak berbakat biasanya diakibatkan karena mereka berbeda dari yang lain.
f.        Dengan adanya program untuk anak berbakat ini, anak berbakat dapat lebih mengekspresikan dirinya sehingga mereka tidak kenal batasan untuk belajar.
g.       Anak berbakat yang terlatih dengan baik juga akan memberikan sumbangan yang baik bagi lingkungan sekitar dan bangsanya sendiri.
h.      Banyak penelitian yang sudah menunjukan banyak anak yang berbakat malah tidak menonjol masa dewasanya, karena anak-anak berbakat tersebut berprestasi dibawah kemampuannya (Marland, 1971; Yaumil Achir, 1990).


3. Kebijakan 
kebijakan untuk anak berbakat sendiri sudah dituangkan kedalam UUD Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional pada Pasal 8 ayat (2) bahwa “warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus”