Kamis, 17 Oktober 2013

Tugas Kreativitas Analisis Diri



Sumber : Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Penelitian Dacey

Pada tahun 1989 Dacey melakukan penelitian di Inggris terhadap kehidupan keluarga yang berbeda-beda pada keluarga biasa. Dari penelitian tersebut Dacey menyimpulan karakteristik-karakteristik yang dimiliki keluarga dalam menghasilkan anak yang kreatif, yaitu:

1.      Faktor genetis VS Lingkungan
2.      Aturan perilaku
3.      Tes Kreativitas sebagai Prediktor Prestasi Kreatif Remaja
4.       Masa kritis
5.      Humor
6.      Ciri-Ciri Menonjol Lainnya
7.      Perumahan
8.      Pengakuan dan Penguatan pada Usia Dini
9.      Gaya Hidup Orang Tua
10.  Trauma
11.  Dampak dari Sekolah
12.  Bekerja Keras
13.  Dominasi Lateral
14.  Perbedaan Jenis Kelamin
15.  Penilaian Orang Tua Mengenai Kreativitas Anak
16.  Jumlah Koleksi


Decay juga menyatakan bahwa terdapat hubungan kasual antara gaya hidup keluarga dan kreativitas. Sama halnya yang terjadi dilingkungan keluarga saya. Ayah saya adalah seorang dosen dan ibu saya hanya ibu rumah tangga. Tapi walaupun ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga, dia tidak suka duduk diam dirumah. Saya sering kali melihat ibu saya berpikir untuk apa yang akan ia kerjakan besok. Sedangkan ayah saya adalah seorang yang tidak suka melihat ibu saya pergi kemana-kemana dan menginginkan ibu saya dirumah saya agar ayah saya tidak susah memikirkan apa yang akan terjadi pada ibu saya. Dengan adanya kendala dari ayah saya yang merupakan faktor dominan dalam keluarga itu tidak membuat ibu saya terhalangi dalam melakukan apa yang diinginkannya. Ibu saya selalu mencari cara agar ayah saya tidak marah dan ibu saya masih bisa keluar rumah.

Tentunya aturan itu tidak hanya berlaku hanya buat ibu saya, saya memiliki empat saudara lainnya dan kami melakukan berbagai cara agar ayah saya tidak marah dan kami bisa melakukan apa yang kami inginkan. Tapi anehnya kalau kami ingin melakukan sesuatu setidaknya kami harus mendapatkan izin dari ibu saya. Karena ayah saya pasti tidak akan memberikan izin.
Menurut saya aturan dalam keluarga pasti selalu ada. Tergantung kita memaknainya dan memanfaatkannya. Selagi kita tidak mempermalukan orangtua dan tidak merusak diri sendiri tida ada salahnyakan kalau kita mencoba sesuatu yang baru.

Waktu saya masih SD ayah dan mama saya selalu mengajak kami pulang kampung ke Sibolga untuk berhari raya. Setelah melakukan solat ied biasanya besoknya kami langsung menuju sebuah pulau yang dinamakan pulau Poncan. Pulau Poncan ini sangat asri sekali apalagi mama saya sangat suka kalau kami datang jam 6 pagi. Disini saya sangat suka menggumpulkan bintang laut, karena bintang lautnya memiliki rongga-ronga di permukaan seperti bernapas. Saya mengumpulkan hampir seratus bintang laut untuk dibawa pulang. Tapi mama saya melarang karena itu terlalu banyak dan hanya akan membunuh mereka di perjalanan pulang kami. Jadinya mama saya menyarankan kepada saya untuk membawa 1 saya perwakilan dari mereka. Jadinya setiap satu tahun sekali minimal saya membawa 1 bintang laut.

Dalam keluarga saya kami dalam keluarga terkadang suka berargumen untuk mengerlurkan pendapat ketika ada masalah. Masalah yang ada kami memberikan solusi yang akan didebat oleh ayah saya, karena ayah saya orang eksakta yang berpikiran secara konsep dan tidak ingin berubah dari konsep yang ada dipikirannya. Untungnya mama saya adalah orang yang bijak karena selalu menerima masukan dari berbagai pihak dan yang pada akirnya bisa mengoyangkan pikiran ayah saya. Mama saya juga sekali menanyakan pendapat kami ketika tidak menemukan solusi pada ayah saya dan membandingkan mana usulan yang bisa dipakai dan usulan yang dapat membantu usulan yang mama saya inginkan.


Rogers mengemukan tiga kondisi dari pribadi yang kreatif ialah :
1.      Keterbukaan terhadap pengalaman
Dalam keluarga saya, setelah solat magrib dan makan malam biasanya kami duduk-duduk semabri mencerikan apa saja yang kami alami dalam satu harian itu. Siapa yang kami jumpai dan apa saja yang kami lakukan. kami selalu tertawa, marah kecewa dan kadang menanggis karena menceritakannya apa saja yang ingin kami sampaikan.

Mungkin hal inilah yang membuat saja selalu menceritakan apa saja yang ingin saya sampaikan kepada oranglain didalam konteks yang saya anggap bisa menceritakan berbagai hal. Mama saya selalu mengatakan pada kami pengalaman itu merupakan hal yang dapat kita petik hikmahnya. Menurut saya ini sejalan juga dengan teori bandura dalam membentuk kepribadian seseorang dalam konsep yang saling terhubung person, enviroment, dan behaviour. Dari pengalama yang kita lihat dan rasakan sendiri kita bisa melihat hal itu sesuai tidak dengan kepribadian kita dan membuatnya menjadi sepuah perilaku. Perilaku itulah yang akan membat kita selanjutnya berperilaku disekolah dan lingkungan masyarakat.

Disekolah sendiri karena mama saya selalu memasukan saya ke sekolah islam. Setidaknya saya mengerti lebih banyak tentang agama dibandingkan abang saya yang selalu sekolah negri. Masyaraknya waktu saya tinggal dimana saya bahkan juga mendukung karena para tetangga selalu mengajak saya ikut dalam kegiata mengaji. Ntah itu dimadrasyah ataupun di rumah ibu pengajian.


2.      Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang
Dalam menilai situasi saya menggunakan patokan oranglain dengan membuat patokan saya sendiri. Apapun yang dipatok orang dalam kehidupannya saya juga memiliki patokan dalam hidup saya. Menurut saya patokan saya hanya bisa berubah dalam keluarga dan jika terdesak dalam lingkungan masyarakat.


3.      Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.
Kemampuan ini hanya akan terlihat ketika saya mau ataupun dipaksa dalam berbagai situasi. Hal ini jarang saya lakukan dengan inisiatif saya sendiri kecuali saya sangat tertarik dengan hal tersebut. Yang sedang saya minati sekarang adalah skincare untuk membuat muka kita terlihat lebih baik. Sebelum mencobanya saya juga membaca reiew tentang hal tersebut apakan sesuai dengan wajah saya atau tidak. Jika tidak terkadang saya mencari bentuk lainnya dan memcocokan kewajah saya.

Dari penjelsan diatas sebenarnya daoat disimpulakan dengan teori Persimpangan Kreativitas (Creativity Intersection). Dalam mewujudkan kreativitas seorang anak sangat diperlukan dukungan dari berbagai pihak ntuk meatih anak dalam keterampilan tetrtentu sesuai dengan minat pribadinya dan dierikan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan kreatifitas seorang anak. Namun, itu tidak akan cukup ketika motivasi intrinsik dari dalam diri seorang anak tidak ada, minat anak harus dulu ditumbuhkan dari dalam dirinya atas kemaunya sendiri atau keinginanya sendiri.


Keberhasilan kreatif itu sendiri merupakan persimpangan (intersection) antara:
·         Domain skills (keterampilan anak dalam bidang tertentu)
·         Creative thinking and working skills
·         intrinsic motivation.
 

 















 Kreativitas akan terbentuk dengan jelas jika sudah mengambungkan konsep dari ketiga ini.

Dalam diri saya ini terlihat ketika saya sangat suka membaca sebuah novel. Saya bisa tidak tidur dalam beberapa hari jika saya benar-benar menyukai novel tersebut. Hal ini membuat saya lebih cepat membaca dibandingkan kawan saya ketika saya SD dulu. Dan efeknya yang terlebih saya jelas bagi saya sekarang ketika teman saya menanyakan tentang kata-kata aneh dan rumit saya dapat dengan mudah mengetahui makna dari kata dan kalimat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar